PERAN KELUARGA DALAM MENGHADAPI PENYIMPANGAN
PERILAKU PADA REMAJA
Remaja adalah masa peralihan diri dari perkembangan
psikologis anak menuju dewasa. Pada masa ini tentu terjadi berbagai macam
perubahan, baik secara fisik, biologis, mental dan emosional serta psikososial.
Berbagai perubahan yang terjadi pada masa remaja dapat mempengaruhi kehidupan
pribadi, lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Remaja adalah bagian dari warga masyarakat yang
paling rentan dalam menghadapi godaan dan tekanan dari lingkungan sosialnya.
Ketidaksiapan remaja dalam menghadapi godaan dapat menimbulkan berbagai
perilaku menyimpang seperti yang belakangan ini makin mencemaskan, seperti
kenakalan remaja, penyalahgunaan obat terlarang, ancaman seks bebas, terlibat
dalam geng, penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDS, kehamilan yang tidak
dikehendaki, aborsi dan lain sebagainya.
1. Lingkungan Masyarakat
Kontrol dari masyarakat juga diperlukan guna
mengatasi bahaya yang lebih besar lagi, karena lingkungan masyarakat merupakan
tempat remaja tersebut hidup. Masyarakat merupakan lingkup Pendidikan
nonformal, dimana remaja belajar bersosialisasi dan menerapkan apa yang ia
dapatkan dari keluarga dan sekolah. Selain itu, dengan bersosialisasi dengan
masyarakat dan lingkungannya, remaja juga belajar tentang norma-norma yang
berlaku di dalam masyarakat, misalnya norma kesopanan, norma susila, norma
hukum, dan lain sebagainya.
2. Peran Keluarga
Keluarga yang pada dasarnya mempunyai peranan untuk
membentuk perkembangan, kepribadian dan sebagai pengontrol bagi anak remajanya
untuk dapat memberikan batasan-batasan dalam menjalani kehidupan sosial serta
tempat pendidikan bagi remaja mulai semakin terkikis dengan masuknya era
modernisasi. Pemecahan masalah sosial merupakan bagian dari kompetensi sosial
sebagai hasil dari interaksi yang kompleks antara anak remaja dan lingkungan. Lebih
lanjut dijelaskan bahwa hubungan antara anak remaja dan orangtua atau pendidik
yang menimbulkan rasa aman yang digambarkan anak merasa dirinya layak dan
berharga diprediksikan akan mempengaruhi bagaimana anak mengatasi masalah yang
menekan ataupun masalah sehari-hari dengan cara yang positif.
Dalam kaitan ini Bimo Walgito yang dikutib oleh
Sudarsono bahwa tidak jarang orang tua tidak dapat bertemu dengan anak-anaknya.
Coba bayangkan orang tua kembali dari kerja, anak-anak sudah bermain di luar,
anak pulang orang tua sudah pergi lagi, orang tua datang anak anak sudah tidur,
dan seterusnya. Keadaan yang semacam ini jelas tidak menguntungkan perkembangan
anak.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan
bahwa tindakan orang para tua dalam hal ini bapak dan ibu yang jarang bertemu
dengan anak-anaknya akan memberikan peluang maksimal terhadap anak-anaknya
untuk senantiasa berberintegrasi dengan lingkungan di mana anak tersbut berada.
Pengalaman-pengalaman yang diperoleh anak apakah itu pengalaman baik atau
pengalaman buruk akan senantiasa berpengaruh terhadap psikisnya. Sehingga anak
tersebut mencari jalan keluar untuk memecahkan masalahnya dengan sendiri.
Pada dasarnya pergaulan bebas yang terjadi di
kalangan para remaja yang disebabkan oleh faktor keluarga ini, juga disebabkan
oleh ketidak harmonisan hubungan suami istri dalam membina keluarga sakinah,
yang menyebabkan broken home. Kenyataan menunjukkan bahwa anak-anak yang
melakukan kejahatan disebabkan karena di dalam keluarga terjadi disentigrasi.
Dengan demikian orang tua dalam hal ini ibu dan bapak yang tidak pernah
memberikan perhatian ataukah membiarkan anak-anaknya begitu saja dalam
berinteraksi dengan suasana lingkungan yang tidak menguntungkan berpengaruh
buruk terhadap perkembangan jiwa anak. Hal yang sama di kemukakan oleh Marawali Harahap bahwa tidak
disilinnya pengawasan orang tua dapat mempengaruhi agama terhadap para remaja
bertambah longgar. Anak mudah lebih cepat matang dari semula dan berhasrat
berdikari pada umur yang lebih muda. Kesempatan bergaul bebas pada
masing-masing jenis menjadi lebih muda pada waktu itu. Jika disimpulkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa minimnya
perhatian orang tua terhadap anaknya akan berpengaruh terhadap perkembangan
tingkah laku anak. Dalam hal ini peluang untuk melakukan pergaulan bebas lebih
besar. Seluruh kegagalan di kalangan remaja membuktikan bahwa, dimasa kanak-
kanak mereka tidak bisa menyusuaikan dirinya dan bekerja sama dalam kehidupan
keluarganya. Keterlibatan keluarga dalam perkembangan anak sangat penting
khususnya orangtua.
Fungsi keluarga terdiri atas empat dimensi yaitu
pemecahan masalah, komunikasi, peran, responsivitas afektif,
a)
Pemecahan masalah, dimensi ini merujuk kepada kemampuan keluarga untuk
memecahkan masalah pada setiap level sehingga dapat menjaga fungsi keluarga
tetap efektif.
b) Komunikasi. Pada
dimensi ini lebih berfokus kepada komunikasi secara verbal yang lebih dapat
diukur.
c) Peran. Pada dimensi
ini terdapat peran dalam keluarga seperti peyediaan sumber daya (penyediaan
uang, makanan, pakaian dan tempat tinggal, adanya perawatan dan dukungan
(penyediaan kenyamanan, kehangatan, rasa aman dan dukungan untuk anggota
anggota keluarga), adanya kepuasan seksual dewasa (pasangan suami istri secara
personal merasakan kepuasan dalam hubungan seksual satu sama lain), adanya
pengembangan pribadi (mendukung anggota keluarga dalam mengembangkan
keterampilan pribadi seperti perkembangan fisik, emosi, sosial dan pendidikan
anak serta pengembangan karir dan perkemmbangan sosial dewasa).
d) Responsivitas afektif,
yaitu kemampuan berespon terhadap stimulus yang ada dengan kualitas dan
kuantitas perasaan yang tepat.
REFERENSI
Berkowitz,
op.cit., h. 75.
Sudarsono,
Kenakalan Remaja (Cet. II, Jakarta: PT. Rineka Cipta 1991), h.125.
Ibid
Henry N.
Siahaan,Pembinaan Anak dala Keluarga (Cet. II; Jakarta: PT. Rineka Cipta 1991),
h. 31
Marwali Harahap,
Penyakit menular Seksual (Cet.II;Pt. Gramedia ,Jakarta, 1990), h. 4
Maurice Balson,
Menjadi orang tua Yang Baik (Cet. I, Bumi Aksara, Jakarta, 1993)h. 144
Afrilyanti,
Herlina & Rahmalia, S, HD (2015). Hubungan Pola Asuh Orangtua Dengan Status
Identitas Diri Remaja. JOM, Vol 2 (2).
Rochaniningsih,
N. S ( 2014). Dampak Pergeseran Peran dan Fungsi Keluarga Pada Perilaku
Menyimpang Remaja. Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, Vol 2 (
1).